Nederlands

Nederlands

Indonesian version of Lisi Fasol’s essay on the social problem in Asia and Africa.

Pengantar: Pastor Wim Fasol (Licinius) OFM Cap menuliskan esai akademis berjudul “Masalah Sosial di Asia dan Afrika”. Ini dipublikasikan di majalah sains misi “The Missionary Work” volume ke-34 tanggal 10 April 1955. Ini karya tulis ilmiahnya di Udenhout saat mempersiapkan diri sebagai misionaris. Esai ini memotret dasar filosofi karya misi Provinsi Gereja Katolik Belanda yang berkembang setelah PD II.

Fr. Licinius O.F.M.Cap.
Indonesian translation by Simon Saragih

Masalah Sosial di Asia dan Afrika

PERTAMA kali dalam sejarah kemanusiaan terjadi sebuah periode krisis, dua perang besar beruntun. Di samping itu teknologi modern memiliki daya yang kuat, membuka dunia dimana semua manusia terlibat aktivitas ekonomi global. Seiring dengan itu terjadi perkembangan dahsyat gerakan intelektual modern. Semua ini merasuki dan memengaruhi hingga ke ilmu politik dunia.

Hasilnya adalah kebangkitan orang-orang dengan kultur oriental kuno dan orang-orang Afrika primitif. Mereka makin sadar akan hak-haknya sebagai manusia, hak akan keagamaan juga sumber daya alam. Mereka memiliki kekuatan tak terhentikan untuk berjuang melawan dominasi dunia.

Di era kolonial, Asia dan Afrika telah terbuka kontak dengan dunia dengan kaca mata lebih lebar. Dan dunia sedang menuju perubahan. Pusat gravitasi sudah berpindah. Para penduduk asli ingin merdeka dan memiliki hak bersuara dalam menentukan tatanan politik dunia, sementara Eropa tua setelah hegemoni berabad-abad di dunia tetap mengancam untuk menjadi pemain di benua lain. Akan tetapi di Asia ada pembicaraan untuk menisbikan Barat (Occident).

Hal ini terlihat di beberapa tempat pendudukan di Asia dan Afrika di tengah situasi kontemporer dunia. Sesungguhnya, dunia hidup di sebuah “inter-regnum” (pergeseran kepemimpinan pola lama ke pola baru) di sebuah era revolusioner dimana filosofi-filosofi besar sedang menantang hegemoni, dimana kawasan perang semakin berpindah ke Asia dan Afrika, saat bagian dunia ini akan memainkan sebuah peran menentukan untuk dunia masa depan.
Dari sebuah sudut padang sosial dan berdasarkan situasi sosial kita ingin mendengar argumentasi ide-ide dari ideologi modern di Asia dan Afrika. Dan kita ingin melanjutkan diskusi lanjutan: Masalah sosial internasional dan pandangan-pandangan besar dunia; Tekanan sosial di Asia dan Africa; Solusi Katolik terhadap pertanyaan atau masalah sosial dalam rangka “Evangelii Praecones”.

I. Problem sosial internasional dan pandangan-pandangan besar dunia.

Masalah sosial hari ini mendapatkan perhatian dari sebuah kepentingan internasional, khususnya ini terlihat dari pendirian badan PBB. Untuk menjawab tantangan sosial dalam hal ini Food and Agriculture Organization (FAO) dan World Health Organization WHO) menjadi organ PBB yang menjadi badan khusus untuk itu.

Kepentingan internasional menginginkan sebuah politik internasional dijalankan baik, dan yang bisa melayani setiap negara dengan kebutuhan dasar secara memadai, serta setiap orang mendapatkan kehidupan yang layak. Gambaran masalah sosial terlihat dalam publikasi yang terdokumentasi baik. Data ini mencakup setengah penduduk dunia terutama yang bermukim di Asia dan Afrika pada tahun 1948. Warga Asia dan Afrika memerlukan pasokan memadai untuk jasa kesehatan yang baik.
Ada sebuah proses yang berkembang di dunia. Dan tentu setiap krisis dunia sebagaimana kita tahu, selalu membawa serta sebuah perubahan yang diperlukan. Hal ini sekaligus juga menyebabkan kekacauan ideologis, juga revolusi sosial dan perubahan sosial.
Politik ekonomi yang lama dan tradisional sama sekali tak memadai lagi. Banyak penduduk asli harus ambruk karena kemajuan besar teknologi dan ekspansi kolonial berkekuatan besar. Oleh sebab itu barang ekonomis terdistribusikan secara timpang. Ada kekurangan kebutuhan dasar bagi 1,128 miliar penduduk, terutama yang bermukim di Tiongkok, India, Indonesia, Pakistan dan di semua negara-negara misi.

Menurut para ahli nutrisi dari sebuah organisasi pertanian sekitar dua pertiga dari 1,128 miliar jiwa itu mengalami malnutrisi. Masalah pangan sangat urgen untuk setengah dari jumlah penduduk itu.

Indikator sosial internasional menunjukkan keadaan yang timpang. Rata-rata usia warga di negara maju 65 tahun, di China dan India kurang dari 30.

Terkait erat dengan itu adalah masalah tentang jumlah penduduk berlebihan. Tiongkok dengan mayoritas wilayah berpegunungan dan gurun berpenduduk 500 juta. Ini lebih dari jumlah Katolik di dunia.

Jepang dengan hampir 100 juta penduduk telah dibawa kembali ke kerajaan pulaunya setelah kekalahan di Perang Dunia II. Di tahun 2000 diprediksi India dan Pakistan akan berpenduduk 800 juta.
Ada isu besar yang menghadang dunia sekarang: masalah sosial di tingkat internasional dan pada umumnya berlokasi di Afrika dan Afrika. Kawasan ini telah menjadi sasaran dan situasi sosial dibuat tertekan hingga level yang tak pernah terjadi sebelumnya yakni oleh perang dunia dan perseteruan politik.

Kebutuhan sosial itu universal. Ini juga menjadi kebutuhan Asia dan Afrika. Karena keadaan begitu tertekan tuntutan akan solusi totalitarian di kalangan orang-orang muda terjadi. “Das soziale Problem”, Freitag menulis demikian, “Tages ist das Programm der Welt”.

Dengan latar belakang sosial dan ekonomi seperti ini, kita ingin bertukar ide-ide besar, saling melayangkan pandangan-pandangan besar dunia dengan tujuan menjamin dominasi atas dunia, khususnya juga tentang kepentingan negara-negara supaya diperhatikan.

Dan bisa dipahami bahwa pertukaran ide-ide mengena bagi Asia dan Afrika yang sedang dalam tekanan materi serta sosial. Masalahnya mereka (Asia dan Afrika) sedang berjuang berdasarkan prinsip mereka sendiri dengan tujuan memenangkan simpati dan menciptakan kondisi yang tepat untuk menerima dan memfasilitasi prinsip-prinsip mereka.

Benar, pengalaman kehidupan yang begitu memerangah sehubungan dengan kondisi materi dan sosial turut menjadi faktor penentu dalam menerima atau menolak sebuah ideologi bahkan ideologi yang lebih spiritual sekalipun.

Pastor Lombardi menuliskan di bukunya “For a New World”, “ide berikut ini yang dia sampaikan kuat. Liberalisme humanis (humanist Liberalism), ambisi Komunisme dan Kekristenan atas hegemoni dunia. Oleh karena itu kini Asia dan Afrika menjalani sebuah kawasan transformasi revolusioner. Liberalis, Komunis dan Kekristenan terbiasa menolong penentuan dan penataan hubungan sosial di negara-negara ini karena itu tentu bersemangat menerapkan ideologi dan spirit mereka masing-masing.

Adalah fakta yang kuat bahwa filosofi asli serta agama asli Asia dan Afrika sering tak dapat mengatasi masalah sosial. Hal-hal ini bahkan berseberangan secara aneh. Karena itu kita ingin tiga pandangan utama dunia ini menjadi bahan diskusi.

Liberalisme humanistik, muncul dan berlandaskan sebuah ideologi rasional, dimana manusia mempelajari otonomi dari Tuhan. Ideologi ini memiliki Humanisme liberal yang membebaskan individu. Namun faktanya, ideologi telah mengelabui massa dengan eksploitasi tak berhati oleh minoritas. Belajar dari sosiolog dan filsuf materialistis besar Barat, ide-ide ideologi ini telah ditanamkan seabad di dunia dan berhasil dimana-mana. Ateisme modern, sebagai premis sosiologisnya: Kapitalisme liberal telah menyebabkan situasi kaos. Jutaan warga diekspolitasi dan dibantai secara mental. Dalam perkembangan politik akhir-akhir ini kapitalisme Barat di Asia dan Afrika menghilang. Era kolonial sudah berakhir. Akan tetapi semangatnya akan terus berlanjut dan – dalam bentuk lain – terefleksi dalam perekonomian dan kehidupan sosial.

Kini Liberalisme Barat dan Ateisme tertanam dalam bentuk lebih modern. Aliran-aliran ini mulai berbicara tentang humanisme dan netralitas tetapi ide dasarnya tetap sama. Dampak gerakan ini dalam wajahnya yang baru serta sangat kuat di Asia dan Afrika. Ini bahkan mengena dan terpaut kuat dengan sistem otokratik para pemimpin lama Asia.

Sementara itu ide dari negara-negara berkekuatan besar hidup kuat di dalam para penentu di negara-negara muda sekarang, yang tertancap dengan sekularisme utuh. Oleh UN (PBB) dan UNESCO, dimana negara-negara kapitalis terwakili kuat, humanisme pagan (bukan agama utama) ini selalu mencoba memperluas pengaruh besar mereka. Contoh pengaruh kuat ini dapat dilihat pada upaya-upayanya di negara-negara Asia untuk mengajarkan neo-malthusian dan tekanan mereka pada aneka pemerintahan begitu tinggi termasuk di India dan Jepang.

Penentang hebatnya muncul. Komunisme ada di sistem ini. Komunisme meningkat pengaruhnya di Asia dan komunitas Afrika dipelopori kuat oleh Tiongkok. Komunisme sedang mempersiapkan diri – secara politik dan militer – untuk masuk lebih jauh ke dalam India dan sudah memiliki sel di banyak pulau-pulau Samudera India. Efek merah bahkan lebih mengancam.

Kita heran bagaimana itu, Komunisme, masih mungkin terjadi di era baru. Dari sebuah sistem yang murni dengan pemaksaan dan ancaman kamp konsentrasi bagi penolaknya, perkembangan ideologi ini tidak bisa dijelaskan.

Tidak, tak mungkin ini tak bisa dipahami. Jawaban pasti mengapa Komunisme berkembang harus dicari lebih dalam. Sukses Komunisme terletak pada tekanan sosial dahsyat. Dia menjanjikan beras segera bagi jutaan yang lapar. Dia berkotbah tentang sebuah dunia baru, sebuah nirwana duniawi, dimana kaum tertindas akan berbahagia. Dan mistisisme ini memiliki daya pesona yang kuat. Jutaan warga harus hidup bermartabat, jadilah Komunis menyumpali dengan kepercayaan ringan ke dalam sebuah masyarakat sosialis baru, keyakinan pada revolusi, keyakinan yang tumbuh marak seiring dengan banyaknya perbaikan sosial buah Komunisme yang terlihat di Tiongkok misalnya. Jadi, mesias komunis ini memegang daya tarik kuat dan menjangkau luas. Dia memperlihatkan makna kehidupan di sini, di dunia.

Dia memiliki ratusan sel-sel idealistik, yang berkomitmen pada ideologi komunis dan fondasi dunia proletar utopis totaliter.
Dan ketiga, Gereja mengambil semua orang ini ke dalam dirinya. Secara virtual sebagai seorang Katolik, sebuah gereja dunia, dia berkembang meluas oleh para misionarisnya untuk memasukkan semua negara dan orang ke dalamnya. Setelah itu, tujuan Gereja adalah melanjutkan misi Kristus yang datang untuk menyelamatkan: Pergi dan ajari semua bangsa.

Gereja harus ditanamkan di bumi, diinkarnasikan di semua warga, dan telah berkembang di segala abad. Mereka harus menciptakan dimana saja sebuah kehidupan Katolik bagi setiap manusia, mengizinkan Kekristenan berdiri. Adalah dengan tujuan ini, yakni menjangkau Gereja, Kristenisasi, mereka saling memberi makna, melakukan ini dengan cara lain, beradaptasi dengan waktu dan segala kejadian.

Jadi sekarang, Gereja ingin orang ini (Asia dan Afrika) ada di dalamnya, harus memandangnya bak seorang ibu, memuasi kebutuhan darurat, yang kelaparan, membajui yang telanjang, mengikutkan orang asing dan mengunjungi pesakitan.

Jelas, dia tidak memperbaiki alamiah manusia, tugas utama Gereja, tetapi menyelamatkan mereka. Namun adalah sebuah kesimpulan bahwa akses kehidupan dengan kondisi non-manusiawi bagi Tuhan di masyarakat memiliki komplikasi besar. Jika kepribadian moral seseorang tidak muncul dalam dirinya sebagai akibat ketidakadilan sosial, maka tidak akan ada kehidupan Kristen. Di sini dengan demikian fondasi terdalam harus dicari untuk aktivitas sosial dari aksi sosial Gereja Katolik. Ini tidak terpisahkan dari Tubuhnya yang Mistis (Mystical Body). Perang terhadap konsekuensi-konsekuensi dosa adalah sebuah tugas langsung dari Gereja: Paus, para pastor, pemeluknya, masing-masing di dalam ranah mereka. Tugas gereja adalah aktif bersama semua orang dan semua relasi manusia demi penyelamatan, tersambung pada perang penting terhadap kondisi kehidupan. Kemenangan karya penyelamatan harus terlihat di seluruh dunia, karena itu Gereja juga harus tertarik dalam urusan darurat sosial di dunia.

II. Tekanan Sosial di Asia dan Afrika

Sebelum spesifik soal gereja, kita pertama-tama ingin spesifik agaknya atas tekanan sosial konkret di Asia dan Afrika, begitu banyak agaknya lebih baik tentang tekanan yang dirasakan pada Liberalisme dan Komunisme. Ini membuat lebih jelas untuk mendefisnikan misi Gereja.

Untuk meraih pemahaman tentang situasi, seseorang harus membedakan proletariat di negara yang sudah eksis berabad-abad dengan sejauh ini yang terbesar dan pusat proletariat ada di kota-kota. Proletariat di kota-kota ini paling banyak muncul dari abad lalu, sebuah hasil sipilisasi Barat.

Negara-negara proletariat, bukan hasil sipilisasi Barat, di antaranya hampir berpusat di seluruh populasi pedesaan, begitu banyak. Deskripsi rinci tentang cara hidup warga miskin primitif tak berbudaya ini memerlukan deskripsi lebih panjang. Mereka benar-benar bergantung pada elemen alam, matahari, curah hujan, dan sering karena kultur pertanian kecil, dan organisasi kecil bencana alam merusak keseluruhan tanaman. Bencana alam, banjir membuat lahan pertanian tak bisa digunakan. Epidemik dan wabah memengaruhi sejumlah besar warga. Lahan biasanya dimiliki pangeran dan tuan-tuan tanah. Sewa tanah sangat tinggi dan petani terjerat di tangan pemilik lahan.

Sebagai sebuah hasil industrialisasi, kapitalisme Barat dan merangseknya ide-ide Barat, situasi menjadi lebih buruk dalam 50 tahun terakhir. Akibat kapitalisme, hubungan sosial, primitif dan asli dimana warga terikat, tertakdir untuk pupus. Kultur-kultur berusia milenia dalam bahaya karena dicekoki sipilisasi materialistik Barat. Hinduisme, pengatur tatanan 400 juta penduduk, tidak mengatasi problema-problema sekarang. Di keruntuhan Afrika dengan dominasi yang disebut klan-klan – kelompok-kelompok hubungan darah di komunitas desa tertutup – semakin tergantung. Dalam kata lain, seluruh ekonomi tradisional warga ini akan menghilang. Ada juga industri yang bermunculan dan menyebabkan migrasi massal ke kota-kota. Dan hanya buruh, pria usia 25 – 40 yang memilih cara mereka hidup. Depopulasi dahsyat di negara terjadi. Sebagai tambahan, tuan-tuan putih menguasai lahan tersubur, dimana penduduk asli dapat atau harus bekerja pada mereka dengan upah minimum.

Konsekuensi dari semua ini sulit dideskripsikan. Kelangsungan pertanian, yang diperlukan memasok makanan ke kota-kota, terancam. Dalam kenyataan riil orang-orang ini menjadi proletar padahal merekalah pemilik lahan dan hidup tidak nyaman serta tergantung pada orang lain.

Di samping kemudian ada kemelaratan juga keresahan sosial di pusat-pusat industri. Penggunaan teknologi modern telah terjadi dan membawa perubahan di kota, berbatasan dengan yang orang-orang yang susah menerima.

Di kota-kota Asia dan Afrika yang melejit – dimana Eropa bukan orang rendahan – dan jamur dan atraksi kota-kota ini meningkat setiap hari. Bagaimana orang-orang biasa di kota-kota ini terputus dan terpecah-pecah, tercerabut dari alam mereka, lokasi hidup mereka, tersedot menjadi warga metropolis modern.

Mereka bukan siapa-siapa lagi dan terikat pada pengaruh spirit materialistis Putih. Mereka berada dalam belas kasih kapitalis dan tak kuasa menolak Komunisme. Jadi Jack telah bekerja di pabrik minim sanitasi, dimana mereka sebelumnya hidup bebas di udara segar. Kondisi kerja buruk, upah rendah, manfaat sosial rendah. Mereka hidup di tenda-tenda, kamp dan gubuk-gubuk. Dalam banyak cara mereka didorong untuk menerima takdir tetapi ada kegelisahan moral. Kehidupan perkawinan normal telah gagal terwujud karena populasi perempuan berkurang.

Inilah dunia dengan lahan subur bagi revolusi murni proletariat. Agama telah hilang, terjerembab mabuk pada roh materialitis, satu kemalangan nyata. Pembentukan proletariat adalah dosa mematikan yang telah kita canangkan.

III. Solusi Katolik Sehubungan dengan Munculnya “Evangelii Praecones”

Gereja mengemban tugas berat untuk mengorganisasikan kehidupan sosial warga Asia dan Africa. Kita memulai dari berikut ini, ensiklik “Evangelii Praecones” yang secara luas mengindikasikan peran Gereja terkait masalah sosial ini.
(Evangelii Praecones, adalah sebuah ensiklik yang dikeluarkan Paus Pius XII tentang Misi Katolik).

Solusi Katolik pertama dapat diakses dari karakter transsenden Gereja. Jelas secara teoritis bagi setiap orang bahwa anggota Gereja, kekuatan supernatural yang ada di balik figur Gereja yang terlihat, tidak tertutup atau terfokus pada aktivitasnya sendiri. Dalam praktiknya, kekuatan Roh Kudus, dimana sesuatu bisa tercipta kembali dan memperbarui wajah dunia, sering sulit muncul untuk berkembang penuh. Bahkan sebuah organisasi kemasyarakatan harus diberi visi bahwa kekuatan Tuhan menciptakan kosmos yang tertata dari kekacaubalauan dan seperti kata Paus, khususnya ketika dia berbicara tentang masalah sosial di negara-negara misi, ”Kristus sendiri menjamin keadilan di antara manusia.”

Benar kata Uskup Fulton Sheen berkata, “Tugas pertama Gereja bukan untuk membentuk tatanan sosial di situasi kemanusiaan yang tak terterangi, tetapi memberi warga kehidupan dan dengan demikian telah membangun sebuah tatanan sosial.” Tanpa keadilan dan cinta, dunia sedang kacau, meski kita punya banyak jasa dan layanan sosial. Karena itu Gereja harus kuat menekankan kotbahnya dan aspek eskatologi Kekristenan (tentang kehidupan kekal setelah kehidupan di dunia berakhir). Paus merujuk kuat di sini. Untuk gereja oriental, karakter eskatologi Gereja, lebih jauh, adalah sebuah suara khusus.

Namun Gereja harus bekerja untuk dan bekerja langsung pada konstruksi langsung positif atas tatanan sosial baru di negara-negara misi. Paus menuliskan: “Pengkotbah Injil telah membedakan diri mereka dalam mendorong kepentingan sosial dan melampaui siapa saja. Karena mereka kemudian harus memastikan itu semua bukan untuk mereka pribadi, melainkan memelihara anak-anak dunia demi kepentingan anak-anak dunia itu sendiri dan menjadikan mereka lebih baik sebagai anak-anak terang.”

Bagaimana Gereja berkontribusi pada solusi atas pertanyaan sosial? Pertama, Gereja di daerah misi harus diorganisir lebih kuat. Gereja adalah sebuah gereja dunia. Hal ini memiliki sebuah konsekuensi praktis. Semua misi harus dibuat saling kontak lewat badan-badan dan dimotori orang-orang dengan kepribadian terdepan. Lewat kekuatan dari sebuah gerakan, 50 juta Kristen di negara-negara misi merasa didukung dan dibantu. Sepaket pasukan adalah kekuatan nyata dan kekuatan psikologis. Sebuah kolaborasi besar diperlukan, contohnya seperti di negara luas India. Ini adalah tugas utama uskup untuk memimpin. Paus menyerukan itu sebagai tuntutan pelayanan pastoral. Beberapa konferensi para uskup telah dilangsungkan tentang masalah sosial.

Akan tetapi harus ada kedekatan yang terajut dan kewaspadaan pada Katolik di daerah terpencil. Kristen di daerah misi hidup terisolasi, yang artinya 40 hingga 50 juta Katolik tersebar di antara 500 juta warga lain. Organisasi lewat gereja dunia harus melakukan aksi penyeimbangan. Harus ada kontak dengan Barat. Belgia memberi contoh yang menyemangati terkait hal ini.

Masalah sosial adalah masalah global, dan hanya dengan sebuah solusi global hal itu bisa diatasi. Lebih jauh, adalah perlu jika ada sebuah gereja dunia yang tertata secara sosial dengan lebih baik dari sebuah dunia komunisme terorganisir. Dengan UN dan UNESCO Gereja harus mengupayakan kontribusi bagi struktur sosial di negara-negara misi dan memperkenalkan prinsip-prinsip Kristen. Ada cakupan luas untuk umat kita Katolik. Kita perlu misalnya berpartisipasi di Misi Pendidikan lewat UNESCO di negara terbelakang untuk menginformasikan pemerintahan tentang aspek sosial dan ekonomi. Juga dituntut kesediaan kita untuk bekerja praktis secara langsung di lapangan terkait pengatasan masalah sosial.

Tugas itu termasuk, dimana Paus lewat ensikliknya menyerukan penekanan penting pada peletakan dasar perjuangan untuk sebuah keadilan sosial dalam bentuk kepemilikan kekayaan pribadi. Sebuah karitas adalah faktor penting dalam karya misi, tetapi penyakit sosial tidak bisa dia selesaikan (oleh Gereja). “Pertama, keadilan harus membuahkan, mendominasi dan bahkan harus bisa dilaksanakan.” Dan lalu Bapak Suci melanjutkan: “Kehormatan pribadi manusia semakin maju sebagai sebuah peran dan sebagai basis alamiah untuk kehidupan: Hak menggunakan benda-benda di bumi. Hak ini berkaitan dengan kewajiban fundamental untuk menjamin kepemilikan pribadi di setiap kesempatan. Ada kebutuhan untuk mencegah aturan hukum positif bahwa pekerja tertakdir independen dan menjadi budak ekonomi yang tak sesuai dengan hak-hak perseorangan.”

Di sini Paus menekankan sesungguhnya dengan mengutamakan penyembuhan yang terluka di negara-negara misi. Kita sudah cukup menjelaskan semua ini. Tugas ini adalah tugas super manusiawi dan ektrem rentan, akan tetapi kekukuhan idealisme yang menjadi dasarnya, akan dapat menghasilkan buahnya.

Dengan basis hukum alamiah ini juga akan membuat terbuka kerja sama dengan kelompok lain dan bersama dengan pemerintahan berbeda. Dan bagaimanapun juga, fondasi doktrin sosial Kristen adalah hukum alamiah. Ini sangat penting karena Kekristenan masih mewakili sebuah minoritas di semua negara misi, dengan suara yang hampir tidak terdengar. Dengan basis kerja sama seperti ini juga bisa menghasilkan kebersamaan untuk memerangi lawan bersama, komunisme. Paus begitu menekankan ini.

Akhirnya, sebuah dunia tentang peran umat di dalam misi. Bapak Suci berkata: “Tidak ada penolakan bahwa para anggota Aksi Katolik (Catholic Action) bergabung dengan segala asosiasi, yang bertujuan membawa kehidupan sosial dan politik sesuai dengan prinsip-prinsip Gospel. Iya, mereka memiliki hak dan kewajiban melakukan itu, tidak hanya sebagai warga, tetapi sebagai Katolik,” menjalankan seluruh tugas dan misi Gereja. Dia yang dimana pun berada adalah jaringan antara Gereja dan dunia. Lewat dia, Gereja adalah prinsip hidup komunitas yang manusiawi.

Saat ditugaskan ke rencana sosial akan memberi tahu umat bahwa dia dibentuk oleh pastor, sebagai lembaga sosial nyata yang menyebarkan semangat Kristen. Solusi sosial harus terlihat di lingkungan mereka sendiri dan ide-ide sosial harus diketahui lewat setiap bentuk legitimatif seperti lewat media, konferensi-konferensi, lembaga-lembaga sosial dan khususnya oleh serikat-serikat pekerja dan warga desa.

Kalimat-kalimat Paus, ketika dia mulai berbicara soal tekanan sosial di negara misi: keberadaan organisasi-organisasi Keuskupan Jerman yang sungguh dijustifikasi. Gereja menghadapi sebuah tugas raksasa. Organisasi umum mendesak. Gereja memiliki misi. Dia harus membawa ketenteraman bagi dunia kasih dan keadilan. Harus ada rasa bagi setiap Kristen bahwa dia di sini adalah anggota Gereja yang harus bekerja bersama.

Udenhout

Wim Fasol

Verder lezen: